Uncategorized

Pembangunan SDN 1 Haji Pemanggilan Disorot, Kepala Sekolah Akui Tak Ada Serah Terima, Tiga Gedung Rusak Kini Dibebankan ke Sekolah

73
×

Pembangunan SDN 1 Haji Pemanggilan Disorot, Kepala Sekolah Akui Tak Ada Serah Terima, Tiga Gedung Rusak Kini Dibebankan ke Sekolah

Sebarkan artikel ini

HORIZON.ID Lampung Tengah — 21/01/2026. Pembangunan gedung SD Negeri 1 Haji Pemanggilan, Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, kembali menuai sorotan. Kepala sekolah mengungkapkan bahwa pembangunan selesai pada Desember 2024 dan masa perawatan telah berakhir. Namun hingga kini, sebagian bangunan masih mengalami kerusakan dan belum ada kejelasan serah terima resmi.

 

Kepala sekolah menjelaskan, awal pembangunan dilakukan karena kebutuhan ruang belajar. Saat itu sekolah memiliki 12 rombongan belajar (rombel), sementara ruang kelas hanya enam. Pihak sekolah mengajukan proposal ke beberapa pihak hingga akhirnya disetujui, namun pelaksanaannya terbagi menjadi dua pola pekerjaan.

 

Sebanyak empat ruang dikerjakan melalui swakelola sekolah sekitar 30 persen pada bagian bawah bangunan. Sementara tiga ruang lainnya dikerjakan oleh pihak luar. Untuk tiga gedung tersebut, pihak sekolah mengaku tidak mengetahui secara jelas siapa pengelola resmi pekerjaan. Komunikasi hanya dilakukan melalui pesan WhatsApp, bahkan tidak pernah ada serah terima resmi kepada pihak sekolah.

 

“Yang saya tahu hanya Pak Sandi Harmoko yang menghubungi saya. Saya tanya apakah bangunan sudah bisa digunakan, beliau bilang bisa, lalu kami pakai,” ujar kepala sekolah.

 

Ia mengakui sejak awal terdapat beberapa ketidaksesuaian kualitas bangunan, seperti plafon, keramik, pintu, serta atap tangga yang sempat tidak terpasang meski tercantum dalam RAB. Perbaikan sempat dilakukan dua hingga tiga kali, namun kerusakan kembali muncul. Bahkan pintu sudah diperbaiki dua kali namun kembali rusak. Lampu di ruang kelas juga diakui memang tidak pernah terpasang sejak awal.

 

Pihak sekolah juga mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa lama masa perawatan kontrak karena tidak pernah menerima dokumen resmi serah terima. Meski demikian, saat ini tanggung jawab perbaikan justru dibebankan kepada pihak sekolah karena dianggap masa perawatan telah habis.

 

“Kami terpaksa memperbaiki dengan dana sekolah dan BOS kalau ada, demi keselamatan siswa. Walaupun bukan kami yang membangun tiga gedung itu,” lanjutnya.

 

Untuk pekerjaan swakelola empat ruang, kepala sekolah menyebut proyek tersebut pernah dipantau pihak kejaksaan secara rutin dan telah diperiksa inspektorat. Meski sempat ada temuan, sudah dilakukan perbaikan. Namun pemeriksaan tersebut disebut hanya menyasar pekerjaan swakelola sekolah, bukan tiga gedung yang dikerjakan pihak luar.

 

Ia juga mengungkapkan pernah ada pihak berwenang datang ke sekolah menggunakan satu mobil, diduga dari kepolisian atau aparat lain, namun tidak melakukan pemeriksaan mendalam.

 

Kepala sekolah menyayangkan pembangunan tiga gedung tersebut karena berdampak pada nama baik sekolah. Meski tetap bersyukur adanya pembangunan, ia mengakui terdapat dampak negatif yang kini harus ditanggung pihak sekolah.

 

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak yang mengerjakan tiga gedung tersebut belum berhasil dikonfirmasi.

Media HORIZON bersama masyarakat Kampung Haji Pemanggilan mendesak pemerintah daerah, inspektorat, dinas terkait, serta aparat penegak hukum untuk membuka secara transparan siapa pihak yang bertanggung jawab atas pembangunan tersebut, termasuk mekanisme pengelolaan proyek, proses serah terima, pengawasan, serta penggunaan anggaran negara.

 

Publik menilai lemahnya koordinasi antarinstansi, tidak jelasnya tanggung jawab, serta pembiaran kerusakan bangunan sekolah merupakan bentuk kegagalan tata kelola pembangunan yang harus segera dievaluasi dan dibenahi secara serius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *