BeritaLAMPUNG

Oknum Kepala Kampung di Mesuji Jadi Mafia Tambang Pasir ilegal, APH Harus Tindak Tegas Sebelum Terjadi Bencana Akibat Mafia Tambang ilegal

194
×

Oknum Kepala Kampung di Mesuji Jadi Mafia Tambang Pasir ilegal, APH Harus Tindak Tegas Sebelum Terjadi Bencana Akibat Mafia Tambang ilegal

Sebarkan artikel ini

HORIZON.COM | Mesuji Lampung
praktik pertambangan pasir sungai ilegal terungkap beroperasi secara terbuka dan menahun. Mesin sedot pasir berkapasitas besar, bekerja siang hari. Pipa-pipa menjulur ke badan sungai, sementara pasir ditumpuk menggunung dan diangkut truk untuk diperjual belikan. Aktivitas ini berlangsung tanpa izin pertambangan. tanpa dokumen lingkungan, dan tanpa papan legalitas. Harga pasir disebut mencapai 750 ribu rupiah per mobil, menandakan usaha komersial aktif dan terorganisir.

Di lokasi, pengelola tambang Amir Hamzah alias Pak Ujang, mengakui kegiatan berjalan hingga bertahun-tahun tanpa izin, serta mengarahkan agar Semua urusan di lapangan bisa dikoordinasikan dengan kepala desa aktif.

Namun, kepala desa Sidang Gunung 3, Kadar Kasimun secara tegas membantah adanya kerjasama atau penerimaan kontribusi apapun.

Perbedaan keterangan ini mempertegas satu fakta, tambang ilegal berjalan terang-terangan, sementara pengawasan nyaris tak terlihat Sungai rusak, jalan desa hancur, dan negara berpotensi dirugikan.

Atas temuan tersebut, Bupati Mesuji Gubernur Lampung serta seluruh pihak terkait diminta segera mengambil langkah konkret dan terukur termasuk Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mesuji, Dinas ESDM Provinsi Lampung, DPM PTSP, Balai Wilayah Sungai, Mesuji Sekampung, SAKPO PP, serta Aparat Penegak Hukum Polres Mesuji dan Polda Lampung untuk menindaklanjuti dugaan kerugian negara.

Kerusakan ekosistem sungai Sidang dan ancaman terhadap kelangsungan hidup masyarakat sekitar sekaligus mengusut tuntas dugaan pembiaran dan perilaku. Oknum Kepala Desa Sidang Gunung 3, Kadar Kasimun yang disebut mengetahui aktivitas pertambangan pasir ilegal tersebut agar kepastian hukum, keadilan lingkungan dan wibawa negara tidak kembali dikorbankan. Sampai jumpa. (Joni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *